Bayi Orangutan Yang Disimpan Sebagai Hewan Peliharaan Mati Di Sumut

Bayi Orangutan Yang Disimpan Sebagai Hewan Peliharaan Mati Di Sumut, Seekor orangutan jantan berusia 11 bulan ditemukan tewas oleh pihak berwenang di Sumatera Utara dalam sebuah adegan suram setelah ditahan sebagai hewan peliharaan oleh seorang penduduk yang kemudian menyatakan bahwa ia tidak lagi memiliki uang untuk memelihara kera besar.

Agen Taruhan Casino Slot Online – Pejabat dari Pusat Informasi Orangutan (OKI), Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kepolisian Nasional dan Tentara Nasional Indonesia mendapat informasi dari masyarakat bahwa orangutan telah meninggal di desa Rih Tengah, Kabupaten Kutabuluh, Kabupaten Karo.

Komandan distrik militer Karo 0205 Letnan Kolonel Taufik Rizal membenarkan temuan itu.

Tim pergi ke sana pada hari Selasa dan menemukan sisa-sisa yang mereka duga adalah bayi orangutan. Tubuh itu sebagian besar kerangka, kecuali lengan. Tengkorak dan [tulang-tulang lain] ditemukan di tempat-tempat terpisah di desa, kata wakil direktur OKI M. Indra Kurnia.

Indra mengatakan bayi orangutan itu telah ditangkap oleh judi slot online warga hutan Bukit Barisan di Karo. Kemudian, itu disimpan oleh seorang warga desa Rih Tengah.

“Dia mengklaim telah memelihara bayi orangutan selama empat bulan,” kata Indra kepada The Jakarta Post pada hari Rabu.

Penjaga hewan peliharaan itu memberi tahu polisi bahwa orangutan telah mati sekitar dua minggu yang lalu dan dia telah menguburnya di dekat rumahnya, tetapi tidak lama setelah itu, seekor anjing telah menggali kuburan dan memakan kepalanya.

Indra mengatakan bahwa mereka telah melaporkan kematian orangutan ke polisi dan Departemen Penegakan Hukum Lingkungan dan Kehutanan untuk penyelidikan lebih lanjut.

“Untuk membuat efek jera, pemilik orangutan harus dihukum. Ini penting, jadi hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, “katanya.

Pada akhir November, sebuah video dengan pesan tentang orangutan beredar di kelompok WhatsApp dari penduduk Karo. Pesan itu mengatakan bayi orangutan telah ditangkap di dekat Sungai Lau Biang di Kabupaten Kutabuluh. Kemudian sebuah video memperlihatkan bayi orangutan, yang diyakini sama, diberi makan pisang oleh seseorang.

Awalnya, diyakini bahwa bayi orangutan telah dipaksa keluar dari hutan bersama dengan hewan lain karena hilangnya habitat mereka, baik karena penebangan liar atau aktivitas gunung berapi di Mt. Sinabung.

Panut Hadisiswoyo dari OKI menjelaskan pada akhir November bahwa hewan-hewan liar memasuki desa-desa karena mereka kehilangan habitat alami mereka karena pembalakan liar dan deforestasi yang merajalela di pegunungan Bukit Barisan di kabupaten itu.

“Hutan sekarang tandus, itulah sebabnya hewan meninggalkan habitat dan menemukan sumber makanan di desa,” kata Panut.

Warga dusun Lau Kawar, sekitar 10 kilometer dari pegunungan, mengaku telah menemukan bayi orangutan di Sungai Lau Biang di Kabupaten Kutabuluh ketika mereka sedang memancing. Orangutan jantan dilaporkan duduk sendirian di atas batu kali.

“Ini adalah pertama kalinya dalam beberapa dekade saya melihat banyak orangutan berkeliaran di sekitar desa seperti ini,” kata penduduk lokal Pelin pada bulan November. Selain orangutan, katanya, penduduk desa juga menjumpai hewan lain, seperti rusa dan kambing liar.

Belakangan, Pelin mengatakan pemilik bayi orangutan itu kesulitan memberi makan hewan itu. Pemiliknya bertanya apakah ada yang mau memelihara orangutan, tetapi dia meminta sejumlah uang untuk “mengganti uang yang dia keluarkan” selama empat bulan terakhir. “Jumlah yang dia minta lebih dari Rp 7 juta [US $ 489],” kata Pelin.

Tidak lama setelah rekaman itu beredar di kelompok-kelompok WhatsApp, ada berita bahwa hewan itu telah mati.

Kapolres Karo Adj. Sr. Comr. Benny R. Hutadjulu mengatakan bahwa pasukan telah membuka investigasi atas kematian orangutan.

Undang-undang tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam melarang pemeliharaan binatang yang dilindungi sebagai hewan peliharaan. Pelanggaran bisa dihukum hingga lima tahun penjara dan denda Rp 100 juta. (evi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *